Welcome to Wajibstat Analysis Jibvela17...

NEW WAJIBSTAT ANALYSIS IS COMING***

Minggu, 28 April 2013

REKONSILIASI HASIL ANALISIS DISKRIMINAN SAMPEL ESTIMASI DAN SAMPELVALIDASI PLUS PADA KASUS TINGGINYA PERSENTASE GOLPUT PADA PILKADA KABUPATEN X UNTUK MENARIK KESIMPULAN YANG TEPAT SASARAN



REKONSILIASI ANALISIS DISKRIMINAN SAMPEL ESTIMASI DAN SAMPELVALIDASI PADA KASUS TINGGINYA PERSENTASE GOLPUT PADA PILKADA KABUPATEN X UNTUK MENARIK KESIMPULAN YANG TEPAT SASARAN

Sore sobat semua.. Apa kabarnya semua?? Moga baik2 aja ya hehehe.. Makin mantap, makin sukses dan makin semangat terus belajarnya hehehe.. Berjumpa lagi dalam topik analisis dikriminan bagian terakhir untuk kasus seputar Pilkada.. Nah, postingan ini adalah terusan dari postingan saya sebelumnya yang berjudul Interpretasi Output Dan Simpulan Penerapan Statistik Analisis Diskrimanan Pada Kasus Tingginya Persentase Angka Golput Pilkada Kabupaten X. 

Jadi, sebelum sobat membaca postingan ini, sangat disarankan sobat membaca postingan sebelumnya..
 
Oke deh sooob, kalau sebelumnya kita sudah bahas output dan interpretasi analisis diksriminan sampel estimasi, sekarang kita rekonsiliasikan hasilnya dengan output sampel validasinya yaaa.. Seperti yang saya pernah bilang dalam postingan sebelumnya, bahwa cukup perhatikan empat hal pada sampel estimasi yaitu uji asumsi non multikolinieritas, uji parsial (Test of Equality) untuk melihat mana yang signifikan, Box’s M (untuk uji kesamaan varians) dan Classification Results (melihat keakuratan dan cek kesalahan klasifikasi).

Output untuk analisis dikriminan untuk sampel estimasi sudah bisa sobat download full dalam bentuk .sav (SPSS) disini. Berikut ini nih saya jelaskan yang tiga itu saja yaaa hehehe..

Pertama..
Lihat Uji Asumsi Non Multikolinieritasnya dimana nilai Variance Inflation Factor (VIF) lebih kecil dari 5. Pendalaman terkait uji asumsi ini bisa sobat baca disini. Hasilnya gooool hehehe..


Kedua..
Lihat Test of Equality pada output validasi. Bandingkan dengan output analisis diskriminan sampel estimasi sebelumnya..
  

Perhatikan bahwa sama seperti output sampel validasi bahwa ketiga hal (ekonomi, administrasi dan visi misi) signifikan dalam memengaruhi variabel terikat tetapi dari nilai Wilks’ Lambda terlihat yang memberikan pengaruh paling signifikan untuk membedakan kategori/kelompok Golput dengan Memilih adalah variabel administrasi, selanjutnya visi misi dan terakhir adalah ekonomi. Dalam hal ini kita tidak membanding-bandingkan peringkat mana yang paling signifikan dengan hasil sampel yang estimasi yaaa... 

Disini kita hanya lihat signifikan tidaknya variabel bebas yang ada jadi tetap kita masih memprioritaskan analisis diskriminan sampel estimasi soooob hehehe..

Ketiga
Lihat uji Box’s M untuk uji kesamaan varians.


Hasilnya adalah uji kesamaan varians sudah terpenuhi (pendalaman terkait hal ini ada pada postingan-postingan sebelumnya.

Keempat: Lihat Classification Result untuk uji keakuratan analisis diskriminan sampel validasi yang dipakai dalam penelitian ini.




Hasilnya adalah 95%, analisis diskriminan akurat kita gunakan.. Nah, untuk pendalaman output ini juga boleh sobat cek pada bahasan sebelumnya hehehe..



SIMPULAN:

Dari Classification Result, diperoleh hasil bahwa survei dengan analisis diskriminan untuk menggali masalah tingginya persentase Golput pada pilkada Kabupaten X ini memiliki tingkat kesahihan/keakuratan 98%  (sangat tinggi).

Ternyata dari hasil analisis diskriminan yang sudah dilakukan (dilengkapi dengan uji validitas) diperoleh kesimpulan bahwa variabel yang paling membedakan masyarakat Kabupaten X berkeinginan untuk Golput atau Memilih adalah ekonomi. Masalah tingginya persentase Golput pada Pilkada kemaren adalah karena masyarakat banyak yang lebih memilih untuk bekerja ketimbang datang ke TPU untuk memilih kandidatnya. Mereka tidak rela harus kehilangan gaji atau upah sehari karena tidak masuk bekerja yang menurut mereka hilang begitu saja hanya karena Pilkada. 

Jadi, mengingat krusialnya masalah “uang” ini, maka untuk Pilkada ke depannya, masalah pemberian hari libur menjadi sangat penting diperhatikan kendati masalah ini kelihatannya sepele. Untuk ke depannya, kalau sudah tahu ada Pilkada dan sudah tahu bagaimana karakteristik masyarakat di Kabupaten X, maka pada hari H nya lebih baik dibuat libur saja agar masyarakat tidak enggan datang ke TPU.

Selanjutnya adalah masalah administrasi yakni pentingnya KPU bekerja secara profesional dalam memerhatikan urusan administrasi. Masalah administrasi menjadi kendala yang juga penting dibenahi karena masyarakat bisa menjadi Golput hanya karena belum beres urusan administrasinya. Perlu diberikan sosialisasi terkait administrasi seperti misalnya kepemilikan Kartu Tanda Penduduk untuk mereka yang sudah layak memiliki KTP dan perpanjangan KTP bagi mereka yang masa berlaku KTPnya sudah habis agar ke depannya, administrasi bukan lagi menjadi masalah non teknis yang membuat tingginya Golput pada Pilkada di Kabupaten X.

Terakhir adalah terkait visi misi umum yang digembar-gemborkan oleh tiap-tiap kandidat Pilkada. Nah, hal ini tentu agak bersifat ke psikologis masyarakat Kabupaten X karena masyarakat menetapkan diri menjadi lebih baik Golput karena ada rasa kejenuhan mendengar visi misi yang: pertama, itu-itu saja atau para kandidat mengusung visi misi yang sama-sama saja, tidak ada yang lebih kreatif/unik. Kedua, masyarakat tidak yakin akan visi misi tersebut bisa terlaksana dengan baik. Jadi, penting bagi para kandidat untuk memikirkan visi misi yang lebih kreatif dan realistis untuk terlaksana dengan cepat dan tepat saat era kepemimpinannya kelak. 

Selanjutnya, tolong perhatikan baik-baik bahwa masyarakat saat ini sudah cukup banyak yang terlihat jenuh melihat ketidaksesuaian kinerja dengan visi misi yang “diteriak-teriakkan” saat kampanye. Ini berbahaya bagi pimpinan yang mencalon ulang untuk Pilkada. Untuk yang belum pernah mencalon, ini bisa jadi bahan telusur yang baik. Bertindak dan lakukanlah visi misi sesuai “janji” mengingat masyarakat Kabupaten X sangat sensitif dengan hal tersebut agar ke depannya ketika akan mencalon kembali, besar kemungkinan masyarakat masih percaya dan memberi kesempatan untuk melanjutkan/merampungkan kinerja yang sudah direncanakan (masyarakat belum berpindah hati ke kandidat lain yang tentunya juga sangat kompetitif).

Wah, itu dulu sooob yang bisa saya bagikan tentang analisis diskriminan ini.. Semoga postingan ini bermanfaat. Sekali lagi, tidak ada maksud saya berpolitisi dalam hal ini atau saya ikut serta dalam kepartaian.. Sama sekali tidak ya soob karena ini hanya penerapan analisis statistik saja hehehehe.. Yaaap, semoga sukses buat kita semua dan salam hangat terdahsyat dari saya buat sobat semua hehehe :-)


 



0 komentar:

Poskan Komentar